Tidak afdol rasanya, jika sebagai tuan rumah tidak menyempatkan diri untuk menuliskan artikel dalam rangka Hari Pahlawan 2022. Semoga makna dan semangat dari peringatan Hari Pahlawan tidak berkurang, demi meneruskan perjuangan, dan menjadi pahlawan sepanjang masa.
Saksi Bisu Perjuangan Pemuda Surabaya
·
Tugu Pahlawan
Berbicara tentang Tugu Pahlawan, maka kita
diajak untuk menyadari bahwa Tugu Pahlawan yang terletak di jantung kota
Surabaya adalah sebagai simbol untuk mengenang semangat perjuangan arek-arek Suroboyo
melawan penjajah. Bahkan para pemuda dan pejuang tidak hanya berasal dari kota
Surabaya, banyak pemuda dan pejuang yang datang bergabung untuk membantu berjuang
mempertahankan kota Surabaya.
Lokasi bersejarah, manarik untuk dijadikan
tempat study tour, dan sebagai tempat spot foto. Apalagi jika malam tiba, maka
warung ”nasi bebek” Tugu Pahlawan yang terkenal dengan dua jenis sambalnya
(sambal korek dan sambal manis) juga ikut buka. Sebagai salah satu lokasi
kuliner kota Surabaya yang terkenal.
Mari, saya mengajak untuk tetap mendoakan para
pemuda dan pejuang yang telah gugur di lokasi tersebut. Jangan terlalu larut
dengan uforia menikmati makanan kuliner, berfoto-foto ria, atau jalan-jalan di
Minggu pagi. Mari sempatkan sejenak mengirimkan doa bagi para pahlawan yang
telah gugur.
·
WR Supratman
Tinggal dan bekerja di kota Surabaya, sejak
tahun 2006, tahun 2010 saya baru tahu dan lewat di depan rumah W.R Soepratman
(museum W.R Soepratman), yang terletak di jalan Mangga No.21, Kecamatan
Tambaksari kota Surabaya. W.R Soepratman, pengarang dan pencipta lagu Indonesia
Raya, dan pahlawan nasional Indonesia. Lahir di Purworejo, 9 Maret 1903,
meninggal di Surabaya, 17 Agustus 1938. Padahal, jarak dari tempat kerja saya
ke lokasi tersebut hanya berjarak 1 KM. Sungguh terharu dan bangga, meskipun
hanya sekedar lewat di depan rumah pahlawan nasional, melewati gang yang cukup
sempit.
Tahun 2012, dalam acara Persami (Perkemahan
Sabtu Minggu), kami para kakak pembina dan adik-adik penggalang Pramuka
mengadakan satu kegiatan haiking malam. Pukul 22.00 WIB kami berjalan kaki dari
sekolah menuju ke makam W.R Soepratman. Kurang lebih pukul 23.30 WIB, kami
akhirnya sampai ke lokasi. Setelah mendapatkan ijin, maka kami melakukan
kegiatan bersih-bersih di sekitar makam. Acara selanjutnya adalah doa bersama,
dan tepat pukul 24.00 WIB, kami menyanyikan lagu Indonesia Raya. Suatu
pengalaman yang luar biasa, sekaligus membuat bulu kuduk merinding.
·
Hotel Yamato
Hotel Yamato kini dikenal dengan Hotel Majapahit
yang berada di Jalan Tunjungan No 65, Surabaya, Jawa Timur. Hotel yang menjadi
saksi sejarah perobekan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), kemudian para
pemuda dan pejuang dengan penuh semangat menduduki hotel tersebut, merobek
bagian bendera yang berwarna Biru, sehingga hanya tinggal warna Merah-Putih. Pertempuran Surabaya pada 10
November 1945, kemudian ditetapkan sebagai Hari Pahlawan, melalui
Keppres Nomor 316 tahun 1959 pada 16 Desember 1959.
Kini hotel tersebut telah diganti namanya dengan
hotel Majapahit, lokasi yang masih tetap identik dengan para pemuda pada saat
ini, namun dengan aktifitas yang berbeda. Pada 10 November 1945, identik dengan
para pemuda dan pejuang yang mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Maka saat
ini, jika malam tiba atau malam Minggu, para pemuda Surabaya banyak melakukan
aktifitas di sepanjang jalan sekitar hotel Majapahit (fotografi, nongkrong,
dll). Kebetulan sepanjang jalan Tunjungan tersebut sangat bagus digunakan
sebagai spot foto.
Sekali lagi, saya mengajak untuk tidak lupa mendoakan
arwah para pejuang yang telah gugur, jangan hanya asik nongkrong, jalan-jalan,
dan berfoto-foto ria. Mari kita ingat dan mendoakan para pahlawan yang telah
gugur mendahului kita.
·
Jembatan Merah
Tentunya tempat bersejarah ini sudah tidak
asing lagi bagi warga kota Surabaya. Jembatan bersejarah, karena menjadi lokasi
pertempuran antara pemuda dan pejuang dengan tentara Inggris. Bahkan insiden
tewasnya jendral Mallaby, menjadi pemicu keluarnya ultimatum bagi warga,
pemuda, pejuang Surabaya untuk menyerahkan diri beserta senjata yang dimiliki.
Namun ultimatum tersebut tidak lantas membuat para pemuda dan pejuang gentar,
untuk menghadapi sekitar 15.000 tentara Inggris/sekutu, sehingga akhirnya
sekitar 6000 pejuang harus gugur mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Saya masih ingat saat menyaksikan acara ”Mister
Tukul Jalan-Jalan”, di salah satu stasiun televisi. Ulasan yang menarik dari
sudut mata batin (paranormal), menggambarkan bahwa banyak pejuang yang gugur di
sekitar jembatan merah untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia, bahkan
banyak pejuang yang gugur hanyut oleh aliran sungai di bawah jembatan merah. Mungkin
karena banyaknya korban dari pihak pemuda dan pejuang Indonesia di lokasi
pertempuran itu, sehingga jembatan tersebut diberi nama jembatan merah.
Pesan yang dapat saya ambil dalam acara tersebut adalah: karena Surabaya adalah lokasi pertempuran pada 10 November 1945, tentunya banyak tempat/lokasi dimana para pejuang Indonesia yang gugur. Maka mari kita sempatkan untuk mendoakan para pejuang yang telah gugur. Jangan terlalu asik hanya untuk berfoto-foto ria, namun sempatkan untuk mendoakan arwah para pejuang yang telah gugur di tempat-tempat yang kita kunjungi.
Arek Suroboyo
Kisah perjuangan dalam peristiwa
10 November 1945, tidak terlepas dari andil dan semangat pantang menyerah para
pejuang dan Arek-Arek Suroboyo, sebutan bagi warga Surabaya. Setelah Proklamasi
17 Agustus 1945, situasi Indonesia belum stabil, saat itu Indonesia masih
bergejolak terutama antara rakyat dan tentara asing. Hari Pahlawan, 10 November merupakan
salah satu peristiwa penting dalam sejarah negara Republik Indonesia.
Karena pada 10 November 1945 terjadi pertempuran besar pasca kemerdekaan
Indonesia, yang dikenal juga sebagai pertempuran Surabaya.
Peringatan Hari Pahlawan Nasional adalah untuk mengenang peristiwa 10
November 1945, yaitu pertempuran antara arek-arek Surabaya dengan tentara
Belanda.
Mari kita simak cuplikan pidato bung Tomo:
”Mereka telah minta supaya kita
datang pada mereka itu dengan mengangkat tangan, Mereka telah minta supaya kita
semua datang pada mereka itu dengan membawa bendera putih tanda bahwa kita
menyerah kepada mereka.”
”Selama banteng-banteng
Indonesia masih mempunyai darah merah
yang dapat membikin secarik kain putih merah dan putih, maka selama itu tidak
akan kita akan mau menyerah kepada siapapun juga. Saudara-saudara rakyat
Surabaya, siaplah keadaan genting! Tetapi saya peringatkan sekali lagi. Jangan
mulai menembak, baru kalau kita ditembak, maka kita akan ganti menyerang mereka
itu, kita tunjukkan bahwa kita ini adalah benar-benar orang yang ingin merdeka.
Untuk kita saudara saudara, lebih baik kita hancur lebur dari pada tidak
merdeka. Semboyan kita tetap: merdeka atau mati!”
Bung Tomo memberikan pesan kepada
kita semua, agar pantang menyerah. Sebab kita adalah ibarat banteng-banteng
Indonesia, yang kuat dan perkasa. Pantang untuk memulai suatu masalah/sumber
masalah bagi orang lain.
Membangkitkan Semangat Pemuda
Mengutip pidato dari Bung Karno, ”Beri
aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10
pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia”. Ingin menunjukkan dan memberi
semangat bagi para pemuda sebagai generasi penerus bangsa untuk terus berkarya
dan berprestasi.
Data demografi Indonesia
menyebutkan bahwa jumlah pemuda di Indonesia sesuai dengan UU No. 40 Tahun
2009, tentang kepemudaan (range usia: 16-39 tahun) berjumlah 61,8 juta (24,5%)
dari jumlah total penduduk Indonesia. Mulai tahun 2020-2035, Indonesia akan
menikmati suatu era ”bonus demografi”: jumlah usia produktif Indonesia
diperkirakan berada pada grafik tertinggi dalam sejarah bangsa Indonesia (64%)
dari total jumlah penduduk Indonesia (297 juta jiwa).
Bonus demografi menjadi peluang
strategis bagi sebuah negara, untuk dapat melakukan percepatan pembangunan
ekonomi, didukung oleh ketersediaan SDM usia produktif dengan jumlah yang
signifikan. Namun Indonesia membutuhkan pemuda yang unggul, berkualitas, dan
memiliki visi ke depan untuk maju. Jumlah yang besar tidak cukup tanpa
diimbangi dengan kualitas yang baik. Tugas kita semua untuk menjadikan bonus
demografi menjadi lebih bermakna bagi percepatan pembangunan di Indonesia.
“Siluet seorang
pemuda yang gagah berani dengan mengibarkan Sang Saka merah putih di segala
penjuru dunia, menunjukkan bahwa pemuda-pemudi Indonesia terus berjuang
sepanjang masa, belajar dan berkarya membangun bangsa.”
Arti bendera merah
putih yang terlihat tetap berkibar dan diikatkan pada bambu runcing,
sebagaimana terlihat dalam logo menunjukkan identitas bangsa. Bangsa Indonesia
tetap menghargai tradisi dan budaya di tengah arus modernisasi. Lingkaran dalam
logo memiliki berarti bahwa momen hari pahlawan merupakan momentum untuk menunjukkan
eksistensi pemuda pemudi Indonesia yang berbudaya dan disegani yang melingkari
dunia.
Siapakah sosok
pemuda dalam siluet tersebut? Sosok tersebut adalah saya, anda, dan kita semua.
Sosok yang harus tetap bersikap gagah berani untuk berjuang dan melanjutkan
perjuangan para pahlawan. Membela negara, dan mempertahankan identitas bangsa
Indonesia. Bahwa dengan bambu runcing kita bisa merdeka, asalkan memiliki
semangat persatuan. Dengan hal yang sederhana, kita bisa merdeka asalkan kita bersatu.
Mari kita tunjukkan bahwa semangat para pahlawan masih tetap kita pertahankan sampai saat ini. Dengan berbagai cara dan tindakan yang positif, demi kemajuan bangsa.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar