(Dua buah tumpeng & kelengkapannya)
Sabtu pagi, 17 Juli 2021 (06.19 WIB), tetiba muncul berita di salah satu WAG keluarga. Berita yang ditulis sendiri oleh orang tua kami yang saat ini berada di pulau Andalas (dalam kisah Wiro Sableng), tepatnya di desa Rejo Asri 3, Kecamatan Seputih Raman - Lampung Tengah. Kurang lebih begini isi beritanya:
"Kiranya Tuhan berkenan" pada tanggal 25 Juli 2021 jam 15.00 WIB, umat lingkungan Santo Yusuf RB 5, saya harap berdoa bersama di rumah Bp. Anton dalam rangka:
- Bersyukur atas kesembuhan anak dan cucu sekaligus kelahiran (neton) anak saya Yohanes Teguh Triharyanto.
- Ulang Tahun dan juga hari kelahiran (neton) anak saya pertama Agustinus Ari Budi Cahyanto, kiranya Tuhan memberkati.
Berita dan sapaan Sabtu pagi itu sungguh diluar dugaan. Menjadi berita menggembirakan karena suatu rencana surprise (yang sengaja dibocorkan) dari orang tua kepada ke dua anaknya. Namun juga menjadi berita pagi yang cukup mengkhawatirkan bagi kami, empat bersaudara, yang tinggal terpisah di 4 penjuru mata angin (Sidoarjo, Palembang, Cikarang, Klaten).
Setelah muncul berita tersebut di WAG keluarga, tidak ada tanggapan dan komentar setelahnya, bahkan sampai dua hari kemudian. Bisa kebayangkan bagaimana perasaan yang mengirimkan berita tersebut? He...he...
Eits....jangan salah, masih ada WAG yang satunya. Tentunya lebih heboh lagi aktivitasnya, menanggapi rencana dan surpraise dari orang tua kami. Dari ke empat anak, tentunya bisa dipastikan saya yang paling terakhir memberi komentar. Alih-alih memberi komentar terhadap rencana tersebut. Malahan saya memposting foto sambil bergaya di depan laptop, karena akan segera mengikuti rapat online.
Komentar pertama yang muncul adalah: "Yangkung-Yangti (sebutan mesra), maaf sebelumnya, keadaan masih gawat seperti ini sebaiknya tidak kumpul-kumpul dulu. Sangat berbahaya karena penyebaran corona sangat tinggi. Kami tidak ingin terjadi apa-apa. Karna kita tidak tahu nanti dari siapa tertular virus ini".
Komentar kedua: "Kota Gajah dan Punggur, sudah masuk Zona Merah. Hati-hati Yangkung Yangti klo tidak perlu jangan keluar dulu atau kumpul-kumpul".
Komentar ketiga: "Iya Yangkung-Yangti, ini penyebaran virus Corona lagi gawat-gawatnya. Ujub syukur bisa diwujudkan dalam doa pribadi dulu. Sebaiknya di lingkungan juga distop dulu, jangan diadakan dulu sembahyangan (ibadat sabda/doa lingkungan)".
Komentar keempat: "Karna kita tidak tahu yang ikut sembahyangan habis dari mana, ketemu dengan siapa? Walaupun tidak salaman, bersentuhan tapi jika berkumpul dalam satu ruangan, kemungkinan untuk tertular sangat tinggi".
Komentar kelima: "Nanti yang diundang sembahyangan juga serba salah, mau datang takut karna Corona, tidak datang kok tidak enak". Mengikuti himbauan saja, kalau untuk sementara gereja meniadakan ibadah offline, ke bawah juga sebaiknya begitu. Terima kasih sudah diperhatikan untuk disembahyangkan. Tapi kami akan lebih berterima kasih lagi, kalau Yangkung dan Yangti juga bisa menerima masukkan dari kami anak-anaknya".
Komentar terakhir adalah dari saya: "Semangat pagi, salam sehat untuk kita semua". Disertai dengan lampiran sebuah foto selfie. Sebuah senyuman untuk mencairkan suasana, namun tak kunjung mencair.
(Senyum anak pertama)
Menjelang sore hari, baru suasana auto pilot mencair, disertai dengan balasan dari orang tua di WAG: "bisa, tidak usah khawatir". Disertai dengan emoticon tersenyum sebanyak empat kali. Menjelang malam hari, saya ajak semua keluarga untuk video call melalui WAG tersebut, tujuannya jelas untuk lebih mencairkan suasana, sekaligus saling sapa, sebagai rutinitas satu Minggu sekali.
Sebagai anak yang hendak dirayakan hari ulang tahunnya, bahkan dalam keterbatasan dan kesederhanaan, orang tua masih ingat dan ingin melakukan hal yang spesial, tentunya saya sangat bersyukur dan terharu. Moment langka dan spesial dimana tepat pada hari ulang tahun saya yang ke 39, juga bertepatan dengan "Neton/Weton" (istilah dalam bahasa Jawa), yang berarti sebagai hari lahir saya dalam tradisi Jawa (Minggu Pahing).
Kedua orang tua memang tinggal di Lampung, sebagai perantau. Namun beliau berdua adalah asli dari Jogjakarta, sehingga masih memegang teguh budaya dan tradisi Jawa. Sehingga moment tersebut ingin disyukuri dan diinkulturasikan dengan ajaran agama Katolik, melalui "Sembahyangan" (doa lingkungan/ibadat sabda). Kebetulan, bapak juga dipercaya sebagai Ketua Lingkungan Santo Yusuf.
Perlu diketahui bahwa dengan mengadakan "Sembahyangan", maka harus mempersiapkan beberapa hal, antara lain: tempat, konsumsi, petugas liturgi ibadat, dan beberapa hal lain. Karena akan kedatangan banyak tamu (umat). Tentunya tidak bisa hanya dikerjakan berdua. Sehingga harus meminta bantuan orang lain untuk mempersiapkannya. Namun karena masih dalam kondisi pandemi Covid-19, rencana tersebut dibatalkan.
Minggu sore, 25 Juli 2021, dengan hanya dihadiri 5 orang, doa dan ibadat tetap dilangsungkan. Dengan tetap mematuhi protokol pencegahan: menjaga jarak dan memakai masker. Terlihat begitu besar niat dan ungkapan syukur dari beliau berdua, bisa saya rasakan, meskipun terpisah tempat dan jarak (Lampung - Sidoarjo). Konsumsi juga tetap disiapkan, namun diantar kepada para tetangga sekitar. Sederhana namun penuh doa dan rasa syukur kepada Tuhan.
(Suasana doa & 2 buah tumpeng)
Dalam budaya Jawa, weton adalah perhitungan hari lahir seseorang yang digunakan sebagai patokan untuk menunjuk ramalan tertentu. Cara menghitung weton berdasarkan hari dan pasaran, ada juga yang dihitung berdasarkan bulan tahun kelahiran. Perhitungan weton ini sangat penting bagi orang Jawa, terutama saat akan melaksanakan suatu acara penting seperti pernikahan, pindah rumah, dan lain-lain.
Dalam hitungan jawa, orang yang lahir pada hari Minggu memiliki nilai neptu 5, sementara Pahing memiliki nilai neptu 9. Jadi, Minggu Pahing memiliki nilai neptu 14. Dalam Primbon Jawa dijelaskan bila orang yang lahir pada hari Minggu Pahing memiliki sifat: "lakuning rembulan atau layaknya bulan". Secara garis besar dia memiliki sifat yang mampu mengayomi dan menentramkan orang yang ada di sekitarnya.
Sifat atau karakter Weton Minggu Pahing
Mereka yang lahir Minggu Pahing cenderung lebih pendiam, menyendiri, atau dikenal dengan istilah introver. Mereka akan melakukan hal yang bisa membuatnya senang dan dirasa bermanfaat. Termasuk dalam berbicara, jika tidak dirasa penting lebih memilih untuk diam.
Namun, mereka memiliki sifat seorang pemimpin yang memiliki kecerdasan rata-rata, mental yang baik, berwibawa, teguh pada pendirian, teliti, dan juga lebih sering menggunakan otak dibandingkan dengan otot. Menurut pengertian tradisional, orang yang lahir pada hari Minggu Pahing diakui memiliki kemampuan yang mengagumkan di bidang apa saja yang digelutinya.
Mereka adalah pribadi-pribadi kuat yang mampu mempertahankan pendapatnya dalam keadaan sulit sekalipun. Tetapi mereka juga berpikiran luas dan cenderung ditanggapi dengan baik dalam lingkungan sosial. Mereka yang memiliki weton Minggu Pahing, dapat benar-benar ahli dalam menyembunyikan (atau memendam) perasaan-perasaan yang tidak enak seperti kemarahan, kesedihan, atau penyesalan.
Makna Nasi Tumpeng
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, tumpeng dapat diidentifikasikan sebagai nasi yang dihidangkan dalam bentuk seperti kerucut untuk selamatan. Sajian khas ini dapat kita jumpai dalam berbagai acara perayaan atau selamatan baik di desa-desa maupun di kota-kota besar dalam lingkup pulau Jawa hingga saat ini.
Tumpeng merupakan hidangan dalam tradisi atau upacara selamatan. Maka, boleh dikatakan bahwa tumpeng juga merupakan sajian yang sakral dan memiliki makna spiritual. Kita tahu bahwa tumpeng juga berbentuk mengerucut ke atas, memiliki makna terarah kepada Tuhan sang pencipta. Tumpeng juga memiliki pondasi yang kokoh dan kuat, sehingga jika dipotong tidak akan goyah.
Tumpeng adalah berbentuk gunungan atau kerucut dan penuh akan makna, lebih-lebih makna spiritual. Gunung dalam banyak tradisi dan kepercayaan, termasuk Jawa, sering diidentikkan sebagai tempat yang maha tinggi, tempat penguasa alam bertahta, dan tempat kemuliaan Allah.
Hubungan antara tumpeng dengan piramida Maslow
Hirarki Kebutuhan Maslow menyatakan bahwa
pada dasarnya manusia itu baik dan
menunjukkan bahwa individu memiliki
dorongan yang tumbuh secara terus menerus
yang memiliki potensi besar. Sistem hirarki
kebutuhan yang dikembangkan oleh Maslow,
merupakan pola yang biasa digunakan untuk
menggolongkan motif manusia.
Sistem hirarki
kebutuhan meliputi lima kategori motif yang
disusun dari kebutuhan yang paling rendah
yang harus dipenuhi terlebih dahulu sebelum
memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi. Kelima tingkat kebutuhan manusia ditunjukkan
dalam tingkatan kebutuhan berikut (saya tulis mulai dari kebutuhan yang paling atas):
- Kebutuhan aktualisasi diri (paling atas). Kebutuhan untuk menyadari kemampuan
seseorang untuk kelanjutan pengembangan
diri dan keinginan untuk menjadi lebih dan
mampu untuk menjadi orang.
- Kebutuhan harga diri. Kebutuhan manusia yang terdiri dari: kebutuhan akan prestasi, kecukupan,
kekuasaan, dan kebebasan. Intinya hal ini
merupakan kebutuhan untuk kemandirian
atau kebebasan.
- Kebutuhan sosial. Kebutuhan manusia yang terdiri dari: memberi dan menerima cinta,
persahabatan, kasih sayang, harta milik,
pergaulan, dukungan.
- Kebutuhan rasa aman. Kebutuhan manusia yang terdiri dari: perlindungan terhadap bahaya, ancaman,
dan jaminan keamanan.
- Kebutuhan fisiologis (paling bawah/dasar). Kebutuhan hidup manusia yang terdiri dari: makanan, minuman, tempat perlindungan, dll.
(Tumpeng & diagram piramida Maslow, sumber: diolah via PPT)
Menurut pendapat dan hasil refleksi pribadi, dapat saya simpulkan bahwa ada benang merah antara: tumpeng dan piramida Maslow, antara lain:
- Keduanya memiliki persamaan: harus memiliki dasar atau fondasi yang kuat dan kokoh untuk menopang beban dan kebutuhan selanjutnya. Dasar yang kuat, ibarat sebuah bangunan yang memiliki fondasi yang kokoh, sehingga bisa memberi rasa aman dan nyaman bagi penghuni rumah. Demikian juga diri dan pribadi manusia, harus memiliki dasar dan fondasi hidup yang kuat, sehingga bisa melanjutkan perjalanan hidup selanjutnya.
- Jika kebutuhan dasar, yang disertai dengan berbagai hiasan dan kelengkapan hidup manusia, bisa tercukupi. Maka kita sudah memiliki dasar yang kuat, untuk bisa mencari dan melanjutkan peziarahan hidup, untuk mencari dan memberikan: rasa aman, hidup sosial, menggapai prestasi dan mimpi.
- Antara tumpeng dan piramida Maslow mengarah ke atas, dan memiliki akhir. Berarti manusia juga memiliki tujuan dalam hidupnya, berasal dari Tuhan dan harus mengarahkan hidup kepada Tuhan, Sang Pencipta manusia. Sehingga kita bisa menjadi manusia yang utuh, dan mampu untuk "memanusiakan manusia".
Tulisan / artikel ini dibuat, sebagai pengingat, penanda hari istimewa tersebut. Meskipun sudah lewat, namun belum kadaluarsa.
Sebagai ucapan syukur kepada Tuhan, atas berkat dan rahmatNya kepada kami sekeluarga. Sekaligus sebagai ungkapan terima kasih, atas semua perhatian, doa, dan cinta, yang telah kami terima.
Salam Hormat, Salam Sehat
By. Mr. aBc
Sidoarjo, Catatan akhir Juli 2021