"Belajar dari pohon dan indahnya bunga tabebuya, setiap insan pasti mempunyai talenta dan kebaikan yang berguna bagi sesama."
Masih menyusuri jalanan padat merayap membelah dua kota:
Sidoarjo-Surabaya, membuat nuansa pagi dan sore hari ku semakin asik. Khususnya
ketika ku sempatkan melirik sisi sebelah kiri dan kanan, sambil melaju di atas
sepeda motor yang usianya sudah 13 tahun.
Cobalah, buktikan sendiri sensasinya, merasakan pengalaman
langsung, dan penuh warna-warni semangat menyambut HUT RI ke 75. Buktikan,
mengapa para pengguna jalan tergoda untuk mengarahkan pandangannya ke sebelah
kiri dan kanan sepanjang jalan A. Yani, ada apa gerangan disana? Ada banyak
warna disana, namun bukan bendera, bukan juga lampu hias, bukan juga deretan
warna sepeda.
Jalanan antara dua kota: Sidoarjo dan Surabaya, menggoda untuk mengajak berpetualang mata. Membuat sepasang mata kaum Hawa melirik manja. Berbisik mesra, meminta kepada sang Adam untuk berhenti sebentar. Membuat sang Adam bimbang dan berbisik dalam hati "gas ko rem? (gas atau rem). Tetap bergegas berangkat kerja, atau berhenti sejenak untuk selfie. Sekarang kita sedang di Jepang kah? Kok banyak bunga Sakura bermekaran?
Sakura Jepang kembali menjajah mata warga Surabaya.
Mengingatkan kembali akan memori antara tahun 1942-1945 silam. Masa pendudukan
Jepang di Indonesia dimulai pada tahun 1942 dan berakhir pada tanggal 17
Agustus 1945 seiring dengan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia oleh Soekarno dan
M. Hatta atas nama bangsa Indonesia. Ah..itu adalah sejarah, sedangkan saat ini
adalah kenyataan. Sebelah kiri itu bukan bunga Sakura, itu adalah pohon
dan bunga tabubuya.
Dikutip dari wikipedia.org,
tabebuya (Handroanthus chrysotrichus), tabebuya kuning adalah sejenis
tanaman yang berasal dari negara Brasil dan termasuk jenis pohon besar.
Seringkali tanaman ini dikira sebagai bunga Sakura oleh banyak orang. Karena
bila berbunga bentuknya mirip seperti bunga sakura. Namun kedua tanaman ini
sebenarnya tidak berkerabat. Pohon tabebuya memiliki kelebihan di antaranya
daunnya tidak mudah rontok, di saat musim berbunga maka bunganya terlihat
sangat indah dan lebat, akarnya tidak merusak rumah atau tembok walau berbatang
keras.
Setiap spesies pohon tabebuya memiliki warna yang
berbeda-beda, saat ini warna yang banyak dikenal adalah putih, merah muda,
kuning, kuning jingga, magenta, plum, dan ada yang merah. Terdapat motif garis
warna ungu di dalam bunganya. Tabebuya pada saat berbunga mampu menghasilkan
jumlah bunga yang sangat banyak dan tidak putus sejak awal musim kemarau hingga
menjelang musim hujan.
Alangkah bersyukurnya saya, bisa menikmati dan mengiringi
bunga-bunga tabubuya yang mekar semakin banyak setiap harinya. Mengawali hari,
menikmati aneka warna secara gratis. Tidak heran jika pagiku lebih terasa
indah, penuh semangat, dan penuh dengan warna.
Pohon ini adalah pohon hias populer yang dapat tumbuh di berbagai jenis tanah di daerah subtropis dan tropis. Tabebuya adalah pohon dengan pemeliharaan rendah, dimana pemangkasan dibutuhkan hanya untuk menghilangkan tangkai yang mati atau rusak. Jarang ada hama atau penyakit yang mengganggu tanaman ini.
Surabaya adalah kota pahlawan, kota penuh sejarah perjuangan
untuk merebut kemerdekaan bangsa Indonesia. Malam hari, mata kita akan
dimanjakan dengan lampu hias beraneka warna. Mulai pagi, mata kembali
dimanjakan dengan warna bunga tabubuya yang mekar indah dalam keberagaman.
Belajar dari bunga tabebuya, yang memiliki warna yang
beragam. Menyambut HUT RI ke 75 tahun 2020 ini, meskipun kita beraneka ragam
suku, agama, dan ras, namun harus tetap satu semangat untuk memberikan
keindahan kepada sesama. Satu semangat untuk mengisi kemerdekaan Indonesia.
Setiap individu mampu mengasilkan warna dan keindahan yang tidak terbatas
sepanjang perjalanan hidup.
Belajar dari pohon dan bunga tabebuya, yang berhasil
dikembangkan di Surabaya, juga beberapa kota yang lain. Tabebuya adalah pohon
dengan pemeliharaan rendah, namun menghasilkan bunga dan warna yang
indah.
Mengajak kita untuk tidak bersikap sombong, namun sebaliknya
bersikap rendah hati. Bukan berarti bersikap rendah diri, atau merasa minder
(tidak percaya diri). Kita bisa belajar dari tabubuya, meskipun rendah namun
bisa menghasilkan keindahan, membuat mata terpana.
Belajar dari pohon dan indahnya bunga tabebuya, setiap
insan pasti mempunyai talenta dan kebaikan yang berguna bagi sesama. Asalkan
mau untuk berbagi dan saling melengkapi satu dengan yang lain. Kita hilangkan
hal-hal negatif, pikiran yang negatif, kita pangkas, agar diri kita mampu
berbunga seindah tabubuya. Jadikan diri kita berarti bagi sesama, jangan
menjadi hambatan atau sumber masalah bagi orang-orang di sekitar kita.
Dengan semangat hari Pramuka (14 Agustus 2020), mari berusaha
menjadi Praja Muda Karana (pribadi yang berjiwa muda dan suka berkarya) yang
disiplin, berani, dan setia; serta pribadi yang suci dalam pikiran, perkataan,
dan perbuatan.
HUT Pramuka ke 59 tahun 2020, dipertegas melalui logo
yang mengajak kita untuk menyadari peran gerakan Pramuka dalam penanggulangan
bencana dan semangat bela negara.
Makna logo dan tema peringatan hari Pramuka ke 59 tahun 2020
selaras dengan kondisi yang sedang kita hadapi saat ini (pandemi Covid-19).
Kita semua adalah Pramuka, yang harus selalu siap sedia, dan senantiasa menjaga
diri untuk menangkal hambatan, godaan dari luar diri kita. Menjaga diri dan
menjaga sesama kita, dengan menerapkan protokol pencegahan Covid-19.
Belajar dari tabubuya, dan sebagai pribadi yang berjiwa muda
yang suka berkarya, kita diajak untuk melakukan aksi-aksi sosial agar menjadi
contoh dan penggerak bagi sesama dalam hal bela negara, dan membantu sesama
yang membutuhkan tanpa memandang suku, agama, dan ras.
HUT Ke-75 RI-Indonesia maju. Tema ini merupakan
simbolisasi dari Indonesia yang mampu memperkokoh kedaulatan, persatuan, dan
kesatuan. Makna kemerdekaan saat ini bukan hanya sebagai sebuah kata, namun
kemerdekaan adalah sebuah kesempatan.
Kesempatan untuk bermimpi hingga menjadi nyata, dan kesempatan untuk berkarya tanpa batas, meskipun saat ini kondisi masih terbatas. Kesempatan untuk kita semua, generasi penerus dan pengisi kemerdekaan bangsa, untuk terus maju dan bangkit dari masalah. Mewujudkan cita-cita kita bersama, untuk merdeka dari pandemi Covid-19.
Jika kita lihat, sesungguhnya logo HUT RI ke 75 ingin
menggambarkan Indonesia sebagai negara yang mampu memperkokoh kedaulatan,
menjaga persatuan, dan kesatuan Indonesia. Berjuang melawan pandemi Covid-19,
dan memberikan keindahan, serta semangat bagi sesama.
Hari Sumpah Pemuda 2020 “Bersatu & Bangkit)
Bulan Oktober ini, kita juga memperingati Hari Sumpah
Pemuda. Makna dari logo Hari Sumpah Pemuda 2020. Terdapat dua insan yang saling
terhubung, menggambarkan semangat persatuan pemuda Indonesia yang aktif dalam
mengisi kemerdekaan Republik Indonesia pada hari Sumpah Pemuda ke-92.
Lalu terdapat perpaduan warna yang beragam melambangkan
keberagaman Indonesia pada agama, suku, ras, dan bahasa. Warna biru pada logo
melambangkan lautan dan warna hijau melambangkan hutan/pertanian Indonesia,
sebagai salah satu kekayaan sumber daya alam negeri.
Mari kita belajar bersama dari karakteristik tabebuya; dapat
tumbuh dengan cepat (bergerak dengan cepat dan gesit) untuk membantu sesama
yang membutuhkan. Menjadi generasi yang menghasilkan bunga-bunga yang indah
(perbuatan-perbuatan baik). Menjadi pribadi yang memiliki kemampuan untuk bertahan
hidup di masa pandemi Covid-19.
Semoga aneka warna indah tabebuya, menjadi sumber imun,
pemanja mata, dan penyemangat kita semua.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar